
Oleh
Muhammad Abdullah Asror Al-Maksumi[1]
Sebagai pengantar tulisan ini, ada baiknya kita simak kisah kehidupan remaja dalam tiga novel berikut. Pertama kisah dalam novel Amerika The Color Purple (1983) karya Alice Walker. Dalam novel ini Celie sebagai tokoh utama adalah seorang perempuan Kristen yang hidup dalam lingkungan budaya Amerika. Ia adalah sosok wanita yang menjadi korban pelecehan seksual oleh ayah tirinya sendiri, justru di saat usianya masih 14 tahun.[2] Setelah memiliki du orang anak yaitu Olivia dan Adam, ia dipaksa kawin oleh ayahnya dengan orang laki-laki yang sama sekali tak dicintainya. Tragisnya, ketika ia hidup dalam ikatan perkawinan pun, ia seringkali dilecehkan oleh suaminya dalam bentuk perkosaaan suami terhadap istri (marital rape) dan penganiayaan suami terhadap istri (wife abuse).. Dalam keluarganya sendiri Celie mendapatkan kekerasan dalam rumah tangganya (KDRT).
Kedua, kisah remaja korban pelecehan seksual dalam novel Arab Imra’a ‘Inda Nuqthat al-Shifr (1979) karya Nawal El-Sadawi. Novel ini menampilkan tokoh Firdaus yang mengalami nasib sama dengan tokoh Celie dalam The Color Purple. Firdaus adalah seorang perempuan Muslim yang hidup di sebuah dusun di pedalaman Mesir yang sarat dengan kebudayaan Arab.Ia menjadi korban pelecehan seksual olehg pamannya sendiri, bahkan ketika ia masih usia kanak-kanak. Setelah tamat SMA Firdaus dipaksa pamannya untuk menikah dengan seorang manula (manusia lanjut usia), bernama Eyang Mahmud. Sebagaimana Celie, ketika masih dalam ikatan pernikahan itu, Firdaus seringkali mendapatkan pelecehhan seksual dari suaminya sendiri (marital rape) dan tindak penganiayaan suami terhadap istrinya (wife abuse). Dalam perjalanan hidupnya ia sering digoda dan dilecehkan laki-laki hingga ajalnya menjelang. Alangkah tragisnya kehidupan perempuan dalam kedua novel itu.
Ketiga, kasus yang agak lain., ada pada sebuah Novel Indonesia, berjudul Ayat-Ayat Cinta (2005) karya Habiburrahman El-Shirazy. Novel pesantren ini mengisahkan seorang pemuda Islam Fahri, seorang santri salaf metropolis dan musafir yang haus akan ilmu. Fahri sangat menjaga syariat Islam yang dianutnya. Bekal ilmu agamanya yang sangat dalam membuat novel ini memiliki kekuatan spiritual dan konseptual yang bergaya esoteric. Fahri kuliah di univesitas ternama Al Azhar University Cairo, Mesir. Sebagaimana remaja pada umumnya ia pandai bergaul dengan sesama dan lain jenisnya. Ia kebetulan hidup dalam apartemen bersebelahan flatnya dengan Maria, seorang perempuan Kristen koptik putri Madame Nahed. Keduanya, meski berbeda latar belakang budaya, bangsa dan agamanya mereka dapat menjalin cinta dan kasih sayang yang tulus, cinta antar anak manusia yang saling membutuhkan dan merasakan kemurnian cinta yang tidak ditunggangi nafsu birahi. Sungguh merupakan pertemuan dua hati yang damai dari dua latar belakang yang sarat dengan multikulturalisme.
Dari prolog cerita tiga novel remaja yang bernuansa Islam sekaligus multikultural tersebut dapat ditarik hikmah pelajaran untuk memberikan pencerahan dan discourses pada kaum remaja kita. Bahwa dewasa ini remaja (Islam) sedang dihadapkan dalam berbagai bentuk tantangan modernitas, baik yang berupa tangan fisikal seperti pelecehan seksual, penganiayaan, dan pemerkosaan, maupun tantangan ideologis berupa radikalisme, pluralisme, inklusifisme, liberalisme, dan multikulturalisme. Kedua novel di atas (The Color Purple dan Imra’a ‘Inda Nuqthat) mencerminkan betapa rawannya gangguan terhadap perempuan, khususnya maraknya pelecehan seksual. Bukan hanya menimpa perempuan lajang, akan tetapi juga pelecehan terjadi dalam rumah tangga, suami istri. Sedang pada novel Ayat-Ayat Cinta, sebaliknya kita menemukan sebuah romantika kehidupan remaja yang berbeda agama, bangsa, budaya, namun mampu menjalin hubungan kemanusiaan yang humanis, Islamis, dan romantis..
Tampaknya telah tiba saatnya kita berdialog, bersikap, bertindak,posistif thingking terhadap berbagai perkembangan wacana modernitas, seperti pluralisme, humanisme, dan multikulturalisme yang muncul sebagai tantangan terhadap keberagamaan kita. Dan hal itu justru akan semakin mendewasakan kita secara spiritual dalam bersikap dan berdialog dengan masyarakat, budaya, agama, dan etnis lain yang berseberangan dengan kita. Oleh karena itu, benar apa yang dikatakan oleh Melani Budianta (UI) dalam pidato pengukuhannya yang menulis makalah Meretas Batas: Humaniora dalam Perubahan (28 Januari 2006), bahwa tantangan budaya dan humaniora dewasa ini sungguh sangat kompleks, dari persoalan budaya pop, agama, dan ideology seperti bom bunuh diri, perkosaan, liberalisme agama dan lain-lain. Sehingga ilmu-ilmu humaniora seperti feminisme, post-kolonialisme, post-strukturalisme, dan psikoanalisa sudah kurang memiliki relevansi untuk memecahkan berbagai persoalan global dewasa ini. Barangkali saatnya kini kita menguji kembali teori-teori dan kita mencai teori baru dari persoalan realistis di lapangan.
Masalahnya adalah bagaimana mengajak dan menyampaikan gagasan, persepsi, konsepsi dan perpektif global seperti multikulturalisme, inklusifisme dan pluralisme agama dan budaya kepada sesama saudara kita yang Muslim, yang notabene mendasarkan pada prinsip agama, rahmatan lil’alamin. Hal ini yang menjadi tantangan budaya lokal yang berkembang di sekitar kebudayaan kita (baca : budaya Islam tradisional). Pemahaman keberagamaan yang sempit, kurang membuka ruang dialog, mahalnya ruang keterbukaan, fanatisme yang memaksakan kehendak, dibarengi dengan kuatnya arogansi ilmu dan pengandalan pada dzurriyah (baca : keningratan, “darah biru”) akan semakin sulit membuka diri untuk mau berdialog dan berkompetisi secara edukatif, ber-fastabiqul khairat dengan pihak lain yang “berbeda” dan yang bukan dari golongan kita (minhum). Remaja (Islam) dewasa ini, mestinya tidak mudah masuk dalam jerat-jerat sikap keberagamaan seperti itu. Maka tantangan remaja sekarang ini, bukan hanya menyangkut persoalan hubungan antar lain jenis, seperti pacaran bebas, pacaran yang Islami, teman tapi mesra (TTM), sampai pada kesiapan imtaq dan iptek, tetapi yang tak kalah menantangnya adalah betapa kuatnya tantangan Glokal di hadapan kita, seperti terungkap pada potret remaja dalam ketiga novel di atas. Wallahu a’lam.
[1] Budaya global-lokal (Glokal) adalah budaya masyarakat transisional. Perilaku budaya masyarakat modern yang berada dalam dua pijakan budaya. Di satu sisi, kaki kanan sudah masuk dalam wacana dan perilaku kekinian bukan hanya metropolis tetapi bahkan megapolis (global) yang modernis, tapi di sisi lain, kaki kirinya masih berada pada posisi di belakang, di tempat (lokal) yang tradisionalis. Sebagai contoh kongkret dari perilaku glokal itu misalnya sebuah keluarga muslim yang sok modernis, maka jika masuk supermarket, mereka bukan hanya secara konsumtif belanja, tetapi juga masuk ke counter kafe Chinesefood,, makan humberger di Macdonald, atau KFC dan lain-lain. Namun jika mereka kembali ke rumahnya, mereka tetap lahap makan thiwul, lothek, sayur lodeh, iwak momoh, atau nasi pecel. Maka praktis dalam diri keluarga itu telah bertengger budaya glokal,yang sebetulnya merupakan refleksi keluarga yang sedang dilanda krisis identitas dan krisis nilai.
[2] Yang termasuk dalam kategori pelecehan seksual dalam konteks ini terinci dalam


Tidak ada komentar:
Posting Komentar